Belajar Investasi

3
Mar

Waktu Yang Tepat Berinvestasi

Kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?
Pertanyaan ini umumnya ditanyakan oleh calon investor yang masih bingung kapan sebaiknya mereka mulai masukmenginvestasikan uang yang sudah mereka siapkan.

Beberapa hari yang lalu saya mengklik link yang dipost salah seorang teman di media sosial Path. Judul tulisan di link tersebut: 10 Life Lessons to Excel in Your 30s (10 Pelajaran Hidup untuk Usia 30an). Si penulis, namanya Mark Manson, yang baru saja berulang tahun ke-30 beberapa minggu yang lalu, mengirimkan email kepada para subscriber di websitenya yang berusia 37 tahun ke atas dan menanyakan: Jika Anda bisa memberi saran/nasihat kepada diri Anda yang berusia 30, apa yang akan Anda katakan?

Mark menerima lebih dari 600 jawaban email, dan ada beberapa poin jawaban yang sepertinya terus muncul pada masing-masing jawaban dengan kata-kata yang berbeda. Nah ini menarik. It seems that there really are a few core pieces of advice that are particularly relevant to this decade of your life. Sepertinya ada beberapa nasihat inti yang benar-benar berpengaruh pada masa-masa ini.

Poin pertama adalah: Start Saving for Retirement NOW, Not Later.
Mulailah menabung/berinvestasi untuk pensiun SEKARANG, bukan nanti. Ini bukan sekadar saran dari financial planner/financial advisor yang sering Anda dengar di radio dan lihat di televisi. Namun Mark memperolehnya dari ratusan email dan ratusan orang yang telah memiliki pengalaman di hidup mereka, bagaimana mereka menyesal tidak pernah menabung/berinvestasi sejak muda. Saya ngga akan menulis semuanya di sini, Anda bisa membaca artikel selengkapnya : 10 Life Lessons to Excel in Your 30s

The point was clear: save early and save as much as possible. One woman emailed me saying that she had worked low-wage jobs with two kids in her 30s and still managed to sock away some money in a retirement fund each year. Because she started early and invested wisely, she is now in her 50s and financially stable for the first time in her life. Her point: it’s always possible. You just have to do it.

Jadi, kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?
Waktu yang terbaik adalah sepuluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, adalah saat ini.

 

2
Mar

Start Berinvestasi

Ada dua poin penting yang menjadi dasar Artikel ini. Pertama: bahwa investasi itu adalah pengorbanan di masa sekarang untuk memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Dan kedua: investasi adalah bagaimana membuat money work harder than you, bukan bagaimana Anda bekerja untuk uang.

So, let’s get stuck in.

Before We Get Started

Sebelum memulai, ada baiknya Anda lihat diri Anda sekarang. Berapa “uang dingin” yang Anda miliki saat ini? Jangan gunakan uang yang dijatah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berapa banyak Anda mau berkomitmen untuk menyisihkan dana setiap bulan atau setiap tahunnya? Tiap orang punya latar belakang dan preferensi masing-masing yang berbeda satu sama lain.

Kalau sudah melihat sikon diri sendiri, sekarang tentukan tujuan investasi Anda. Berapa besar target yang ingin Anda capai? Berapa lama jangka waktu yang Anda miliki? Apakah mau menyisihkan dana untuk pensiun? Ingin naik haji lima tahun lagi? Menabung untuk pendidikan anak Anda kelak? Sekedar ingin terlihat keren menyandang status sebagai ‘investor’? Atau ingin diam-diam kawin lagi dan butuh dana untuk menghidupi istri muda? (eh)

Kalau sudah, pertanyaannya sekarang, seberapa kuat Anda berkomitmen untuk beneran berinvestasi? Secara psikologis, manusia lebih suka bersenang-senang hari ini (instant gratification) daripada menunda demi kesenangan yang lebih besar di masa depan. Nah, bisakah Anda melawan godaan ini? Bayangkan, teman Anda punya iPhone 5 terbaru dan Anda masih menggunakan handphone yang Anda beli tiga tahun lalu. Teman Anda mencicil mobil baru tiap bulannya, sementara Anda mencicil saham dan Reksa Dana. Teman Anda bisa mengelus-elus mobil barunya yang masih mulus. Anda bisa mengelus-elus apa? I’m not saying it’s going to be easy, but I’m telling you it’s probably going to be worth it.

Tapi di sisi lain, jangan pula bersikap terlalu impulsif. Berinvestasi karena produk X atau bank Y menawarkan Samsung S4 baru atau mobil Avanza? Tertarik membeli Reksa Dana atau saham karena harganya belakangan naik? Anda sih bisa saja keluar dari rumah dan naik angkutan apapun seadanya (ojek, angkot, bus, taksi), dan tiba di tempat yang dituju. Tapi perjalanan investasi tidak sama dengan perjalanan ke Kelapa Gading atau ke Pasar Minggu.

Tabungan/Deposito vs. Inflasi

Pada poin kedua , tujuan investasi adalah to make money work harder than you, sedemikian hingga Anda tidak perlu bekerja susah payah lagi di kemudian hari. Anda bisa menikmati kerja keras investasi Anda sementara Anda tak perlu bekerja dan bebas melakukan sesuatu yang menjadi hobi, passion, atau cita-cita Anda.

Nah, untuk mencapai itu semua, diperlukan instrumen investasi yang (1) bisa mengalahkan inflasi, dan (2) pada akhirnya kelak bisa menutup biaya hidup Anda tanpa Anda harus bekerja. Inflasi adalah ilusi yang mematikan karena menggerus kekayaan Anda tanpa Anda sadari. Lima tahun lalu, Rp 10.000 bisa buat makan bakso berdua. Tapi sekarang, dengan nominal yang sama cuma dapat satu porsi saja. Lima tahun lagi mungkin cuma bisa dapat kerupuknya saja.

Disini tidak menyebut tabungan dan deposito sebagai instrumen investasi karena untuk mengalahkan inflasi saja ia gagal. Misalnya, suku bunga deposito di BCA untuk nominal di bawah Rp 2 miliar bunganya hanya 4,5%. Tabungan (Tahapan BCA) di bawah Rp 1 miliar cuma dapat bunga 1,3%. Bandingkan dengan inflasi kita yang ada di kisaran 6%. Kalau cuma ditabung, kekayaan Anda akan tergerus 4,7% tiap tahunnya, sementara kalau didepositokan, akan tergerus 1,5% per tahun.

Beberapa bank (juga BPR) memang ada yang menawarkan rate lebih tinggi. Tapi perlu dicatat bahwa LPS hanya menjamin simpanan pada nominal dan rate tertentu. Kalau lebih dari itu, LPS tak mau tanggung jawab. Satu-satunya “keuntungan” deposito  adalah bilyet depositonya bisa digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit di bank yang bersangkutan, walaupun hanya 80-90% dari dana yang Anda depositokan dengan bunga sekitar 3-4% dari bunga deposito yang Anda peroleh.

Alternatif yang lebih menarik mungkin Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang ditawarkan hampir tiap tahun sejak 2006 lalu. Pertama kali diluncurkan, suku bunga ORI001 besarnya 12,05%, tapi belakangan suku bunganya makin menurun—mungkin karena peminatnya makin banyak. ORI007 dan ORI008 misalnya cuma dipatok 7,95% dan 7,3% saja. ORI009 bahkan cuma ditawarkan di 6,25% (jatuh tempo 15 Oktober 2015).

Investasi Reksa Dana

Bagi para pemula, recommend  Reksa Dana untuk ‘test the water‘, sebagai wahana untuk menguji dan melatih Anda dalam berinvestasi. Reksa Dana relatif mudah dilakukan, bisa memperkenalkan Anda terhadap dunia investasi dan pasar modal, serta relatif bisa dimulai dengan modal yang kecil.

Cara memulai investasi di Reksa Dana juga gampang. Anda cukup mencari produk Reksa Dana yang sesuai, pilih manajer investasinya, baca prospektusnya, lalu lakukan pembelian (subscription) dan transfer dananya. Anda bisa membeli langsung melalui manajer investasi atau membelinya lewat agen (bank) yang ditunjuk. Pilihan produknya juga beragam, mulai dari Reksa Dana pasar uang, Reksa Dana pendapatan tetap, Reksa Dana saham, Reksa Dana campuran, Reksa Dana ETF, dan Reksa Dana indeks. Daftar lengkapnya bisa Anda lihat di sini.

Membuka rekening Reksa Dana tak beda jauh seperti membuka rekening bank. Anda akan diminta untuk mengisi formulir, menyiapkan fotokopi identitas, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak Anda investasikan. Satuan Reksa Dana dihitung berdasar unit penyertaan (UP) dan nilai aktiva bersih (NAB). Semisal hari ini Reksa Dana X harga NAB-nya Rp 1.300. Anda berencana membeli 1.000 unit penyertaan. Maka Anda membutuhkan dana Rp. 1,3 juta (plus komisi/fee).

Seandainya akhir tahun nanti harga NAB-nya Rp 1.500 dan Anda hendak mencairkan Reksa Dana Anda, maka keuntungan Anda sebesar Rp 200 ribu (minus komisi/fee/pajak). Sebaliknya, andaikata harga NAB-nya turun jadi Rp 1.000, maka kerugian Anda jadi Rp 300 ribu (plus komisi/fee). Tiap tahun (atau tengah tahun), manajer investasi akan mengirimkan Anda laporan investasi Reksa Dana Anda. Laporan inilah yang menjadi bukti/konfirmasi atas kepemilikan Reksa Dana Anda.

Investasi Saham

Banyak orang membahasakan investasi saham sebagai trading saham—yang tak jarang hanya mengandalkan rumor dan menggunakan margin yang tinggi. Tentu investasi model semacam itu jelas tidak disarankan. Selain berisiko tinggi, bisa bikin jantungan dan mengancam keharmonisan rumah tangga. Investasi saham yang dimaksud adalah investasi yang dilakukan dengan terukur, dihitung berdasar valuasi yang baik, dan direncanakan dengan matang. Pentingnya pendekatan fundamental dan jangka panjang, bukan short-term trading dan spekulasi.

Memulai investasi saham mirip dengan memulai investasi Reksa Dana. Anda harus membuka rekening di sekuritas terlebih dahulu sebelum bisa bertransaksi (lengkapnya bisa dilihat di sini). Yang membedakan antara broker/sekuritas yang satu dengan yang lain biasanya pada jenis layanan yang diberikan, biaya yang dibebankan kepada investor, dan pada kekuatan modal (MKBD) yang dimiliki. Mirip seperti membuka rekening Reksa Dana, Anda akan diminta untuk mengisi formulir, membuka rekening dana investor (RDI), menyiapkan fotokopi identitas, NPWP, dan berkas-berkas lainnya. Setelah rekening saham Anda aktif, biasanya 3×24 jam, barulah Anda bisa menyetor dana (deposit) dan mulai melakukan transaksi saham.

Belakangan ini, banyak broker/sekuritas memberikan layanan online trading yang murah dan mudah diakses dari manapun. Anda juga bisa memulai investasi dengan modal awal yang cukup rendah, mulai dari Rp 5-10 juta—walaupun pilihannya jadi lebih terbatas. Bagi pemula, untuk memilih saham-saham blue chip (LQ45) yang solid. Kalau masih bingung, Anda bisa meniru (mirroring) dari Reksa Dana saham. Ambil salah satu Reksa Dana saham yang kinerjanya bagus, download prospektusnya, lihat komposisi isi perutnya, lalu belilah saham-saham itu sesuai preferensi dan sikon Anda. Walaupun isinya lebih berbasis historical data dan hanya meng-cover top holding saja, tapi setidaknya informasi ini bisa memberikan Anda sedikit ‘clue.’

Berdasar pengalaman , selama Anda tidak memilih saham abal-abal maka kinerja investasi Anda akan cukup memuaskan—jauh di atas bunga deposito. Bagi mereka yang lebih advanced,  metode valuasi yang lebih kompleks untuk melihat (spotting) saham-saham yang masih murah dan punya upside potential bagus.

Investasi Emas

Emas sebagai investasi ‘per se’, tetapi lebih sebagai diversifikasi dan hedging risiko.

Komposisi emas yang terlalu besar dalam portofolio Anda—tak lebih dari 10-15%. Alasan pertama, emas hanya naik bila didorong oleh faktor krisis, perang, bencana, dan catastrophe lainnya. Kedua, hasil trace back ke belakang juga membuktikan bahwa emas masih kalah dari saham, Reksa Dana, dan properti. Dan terakhir, paling penting, emas tidak memberikan cashflow seperti halnya instrumen investasi yang lain. Anda hanya bisa merealisasikan profit investasi emas Anda ketika Anda menjualnya lagi.

Bagi Anda yang tertarik berinvestasi emas, baiknya ntuk berinvestasi dalam bentuk fisik. Anda bisa membelinya dari toko-toko emas atau dari Logam Mulia (PT Antam). Beli emas secara legal dan lengkapi dengan dokumen (sertifikat) yang resmi. Simpanlah dalam tempat yang aman atau sewa safe deposit box di bank.

Secara hitung-hitungan, lebih menguntungkan membeli dalam bentuk batangan/lantakan. Pecahan yang kecil (50 gram atau yang lebih kecil) biasanya lebih “mahal” daripada pecahan yang besar (di atas 50 gram), tetapi lebih mudah diperjualbelikan kembali karena pasarnya lebih luas. Kalau Anda punya uang nganggur dan mau “menabung” emas tapi dana terbatas, Anda bisa membeli dari pecahan terkecil 5 gram (sekitar Rp 3 juta). Ketika hendak menjual kembali, akan lebih menguntungkan kalau Anda ketemu buyer langsung, seperti famili atau teman kantor, daripada menjualnya ke toko emas.

Investasi Properti

Strategi berinvestasi di properti bisa dimulai dengan mencari rumah seken yang ada di kisaran harga Rp 500 juta ke bawah (tergantung lokasi). Rumah di atas Rp 500 juta pasarnya cenderung menyempit dan spesifik. Selain itu, rumah kelas Rp 500 juta ke bawah lebih pas untuk disewakan bagi PNS atau pegawai kantoran yang baru menikah (keluarga muda). Kalaupun Anda ingin menjualnya kembali, dengan harga segitu relatif tidak sulit bagi Anda untuk menemukan pembeli.

Usahakan Anda bisa mematok biaya sewa 3-7% dari harga properti. Tergantung pada wilayahnya, potensi naiknya harga properti (capital gain) berkisar antara 10-20% per tahun. Kalau Anda menggunakan pembiayaan dari KPR untuk mendapatkan rumah tersebut, buat perhitungan dan perencanaan yang matang. Hitung juga nilai dari bangunan rumah tersebut. Harga tanah memang cenderung selalu naik, tapi nilai bangunan akan turun karena termakan usia dan cuaca. Salah satu risiko yang harus diwaspadai ketika menyewakan rumah adalah rumah menjadi tidak terurus dan banyak timbul kerusakan.

Ketika Anda hendak membeli rumah untuk disewakan, perhatikan bahwa harga yang diminta penjual tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Pintar-pintarlah menemukan barang bagus dimana penjualnya sedang butuh uang (BU). Kalau untuk disewakan, usahakan membeli properti yang harganya 70-80% dari harga pasar. Dalam membeli rumah untuk disewakan, gunakan pertimbangan obyektifitas, jangan gunakan faktor like-dislike, karena toh rumah tersebut tidak untuk Anda tinggali sendiri.

Faktor lokasi jelas sangat mempengaruhi sukses tidaknya berinvestasi di properti. Pastikan Anda memilih kawasan yang sudah “hidup” dan ditinggali, bukan rumah kosong yang dibeli spekulan. Pilih juga kawasan dengan fasilitas perbelanjaan, transportasi, dan sekolah/kampus yang memadai. Kalau Anda membeli dari developer, pastikan juga track record developer tersebut bisa dipercaya.

Oke, Selanjutnya Bagaimana?

Seperti slogan Nike, just do it! Mulailah segera. Tak usah terlalu banyak membuat perhitungan yang terlalu njlimet di tahap-tahap awal. Sisihkan uang “dingin” yang Anda punya, pilih salah satu instrumen yang Anda suka, lalu mulailah berinvestasi. Jangan takut rugi. Mulailah dengan investasi yang bisa dilakukan dengan modal yang relatif kecil terlebih dahulu. Anggaplah ini sebagai ongkos belajar. Daripada Anda bayar jutaan rupiah untuk seminar yang tak jelas, lebih baik untuk belajar investasi langsung.

Jangan berharap return tinggi dalam waktu singkat, terutama di masa-masa awal Anda berinvestasi. Kalau Anda mengharapkan return yang menakjubkan dalam tempo sekejap, lebih baik Anda masuk ke partai dan melamar jadi bendahara umum atau makelar proyek. Fokuslah pada proses pembelajaran, mengumpulkan pengetahuan serta pengalaman, dan profit akan datang dengan sendirinya. Your purpose is to make mistakes, but in the right direction.

Top-up investasi Anda agar terus bertumbuh, atau biasa juga disebut cost averaging, yaitu secara periodik melakukan penambahan pada investasi Anda. Anggaplah seperti menabung. Ada dua hal yang bisa dilakukan: (1) increase your income, dan/atau (2) live below your means. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mendapatkan tambahan dana untuk bisa diinvestasikan. Bedanya, live below your means punya limit bawah (pengeluaran Anda tak mungkin nol, bukan?), sementara increase your income secara teknis tak punya limit maksimal (Anda bisa punya penghasilan tak terbatas).

Lakukan fine tuning sambil jalan. Dalam perjalanannya, Anda akan ketemu dengan return, fee, komisi, pajak, dan hal-hal menarik lainnya. Kalau dirasa kurang pas, Anda bisa melakukan adjustment. Semisal komposisi Reksa Dana Anda terlalu besar, maka Anda bisa mencairkan sebagian untuk dipindahkan ke yang lain. Atau, semisal Anda terlalu banyak komposisi di saham tertentu, Anda bisa memindahkan sebagian ke saham yang lain. Kalau ada yang menawar properti Anda dengan harga tinggi, Anda bisa menjualnya untuk dipindahkan ke instrumen lain

 

2
Mar

Memilih Investasi Terbaik

Pilihan Investasi

Meskipun investasi saham bisa dibilang tinggi imbal hasilnya, namun belum tentu semua orang cocok berinvestasi saham. Demikian pula investasi properti, emas, obligasi, dan yang lainnya. Jika teman Anda cocok berinvestasi pada sebuah instrumen investasi, belum tentu investasi tersebut adalah yang terbaik untuk Anda. Mengapa demikian ?

Setiap orang mempunyai latar belakang dan tujuan investasi yang berbeda. Selain itu setiap orang tercipta unik dengan karakter yang berbeda-beda dan juga tingkat kemampuan finansial yang berbeda pula. Jadi jika teman Anda merasa cocok pada sebuah jenis investasi, jangan asal ikut-ikutan. Lalu, bagaimana caranya menentukan jenis investasi yang cocok bagi kita?

Yang pertama, tentukan berapa banyak modal yang Anda miliki. Dengan menentukan modal, hal ini berarti Anda sedang menghitung berapa banyak “peluru” yang Anda punya. Jika Anda memiliki modal kecil, Anda bisa memilih investasi Reksa Dana, yang dapat dibeli dari nominal beberapa ratus ribu rupiah saja, berjenjang hingga jutaan rupiah. Investasi obligasi, misalnya ORI (Obligasi Ritel Indonesia) membutuhkan dana minimal sebesar Rp 5 juta. Bagaimana dengan saham?

Meskipun saat ini banyak sekuritas yang memberi penawaran sangat menarik, yaitu membuka rekening dengan dana sangat kecil, namun paling tidak Anda membutuhkan dana Rp 10 juta ke atas untuk membeli saham-saham lapis pertama hingga lapis kedua. Saham-saham lapis ketiga yang sangat murah harganya cenderung tidak likuid dan beresiko tinggi.

Yang kedua, tentukan tujuan Anda berinvestasi. Untuk apa Anda berinvestasi ? Misalnya saja, jika Anda memilih berinvestasi untuk tabungan anak jangka panjang, maka investasi saham jangka panjang, atau Reksa Dana saham adalah pilihan tepat. Namun jika tujuan Anda berinvestasi adalah untuk menyimpan dana untuk naik haji selama dua tahun ke depan, maka pilihan berinvestasi pada obligasi/Reksa Dana pendapatan tetap adalah pilihan yang tepat karena memiliki tingkat resiko lebih rendah daripada Reksa Dana saham.

Yang ketiga, tentukan profil resiko Anda. Investasi berdasar urutan tingkat resiko dan imbal hasil :

  1. Deposito
  2. Obligasi
  3. Reksa Dana, terdiri dari Reksa Dana pasar uang, Reksa Dana pendapatan tetap, Reksa Dana campuran, Reksa Dana Saham
  4. Saham

Berinvestasi dalam deposito memiliki tingkat resiko paling rendah,namun juga imbal hasil yang sangat rendah sekitar 6% jauh di bawah tingkat inflasi yang rata-rata berkisar 10% per tahun.

Obligasi adalah pilihan tepat bagi Anda yang memiliki profil resiko moderat, namun menginginkan imbal hasil di atas deposito. Namun, Anda harus selektif dalam memilih obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan, karena adanya resiko gagal bayar. Untuk meminimalkan resiko gagal bayar, Anda bisa memilih obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, salah satunya adalah ORI (Obligasi Ritel Indonesia) yang dapat dibeli dengan minimal dana Rp 5 juta hingga maksimum Rp 3 miliar.

Di atas obligasi, ada Reksa Dana dengan berbagai jenjang profil resiko & imbal hasil pula. Reksa Dana saham adalah jenis Reksa Dana yang memberikan tingkat imbal hasil tertinggi namun juga resiko cukup besar. Oleh karena itu, Reksa Dana saham sangat cocok bagi Anda yang ingin berinvestasi dengan bingkai waktu besar (di atas 5 hingga 10 tahun) untuk mendapatkan hasil yang maksimum.

Nah, pilihan investasi yang terakhir adalah berinvestasi langsung pada bursa saham. Berinvestasi langsung pada bursa saham ini sangat menarik. Mengapa ? Jika Anda jeli dan cermat dalam memilih saham, dan menentukan level beli dan jual, maka Anda memiliki peluang untuk memperoleh keuntungan / imbal hasil cukup besar. Namun jika Anda tidak cermat dan tidak disiplin di dalam mengelola portofolio dan emosi (rasa takut dan serakah), maka resiko yang muncul juga cukup besar.

Jadi jika Anda berminat untuk berinvestasi langsung pada instrumen saham, sebaiknya Anda cermat dalam memilih saham untuk investasi jangka panjang, dengan menggunakan Analisis Fundamental, dan menentukan timing beli / jual dengan memanfaatkan Analisis Teknikal.

Jika Anda malas belajar? Hmm… sebaiknya pertimbangkan lagi niat Anda untuk berinvestasi langsung dalam bursa saham. Lebih baik serahkan dana Anda pada manajer investasi/Reksa Dana yang terpercaya atau instrumen investasi lainnya.

Nah, demikian sharing dari saya tentang bagaimana memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan Anda.

 

29
Feb

Perencanaan Keuangan

Revolution Slider Error: Slider with alias home_slider2 not found.

Maybe you mean: 'home_slider' or 'video_slider' or 'aboutus' or 'customslider'

Fungsi Perencanaan Keuangan Pribad

Fungsi perencanaan keuangan pribadi atau keluarga adalah mengelola keuangan untuk masa depan sedini mungkin dalam mencapai tujuan keuangan , dilakukan secara terencana, teratur dan bijaksana (bisa jadi membutuhkan perencana keuangan. Direncanakan, yang berarti kita dapat mengantisipasi yang akan terjadi di masa yang akan datang . Teratur , yang berarti bahwa kita memiliki cara atau strategi keuangan dengan mempertimbangkan yang prioritas ataukah yang kurang prioritas lebih jelas . Dan mengelola uang dengan bijaksana dapat berarti secara masuk akal atau sesuai nalar , tidak emosional .

Tugas utama dari Perencana Keuangan adalah untuk membantu individu atau keluarga untuk mengembangkan rencana keuangan untuk mencapai tujuan keuangan yang telah atau ditetapkan . Pada hal ini perencanaan keuangan adalah lebih berkaitan dengan keuangan pribadi daripada keuangan perusahaan. Sebagai bahan kekayaaan pengetahuan kita, silahkan bisa menuju ke situs wikepedia untuk mengetahui lebih lanjut tentang profesi perencana keuangan.

Rencana keuangan berisi daftar tujuan keuangan disertai dengan saran tentang cara bagaimana untuk mencapai hal itu , dan tentu saja disesuaikan dengan keadaan seseorang atau keluarga bersangkutan . Itulah sebabnya Perencana keuangan tidak dapat selalu memberikan jawaban secara umum kepada setiap orang .Karena situasi dan kondisi setiap orang berbeda , tujuan yang berbeda , strategi yang berbeda juga .

Oleh karena itu penting bagi kita untuk tahu dulu apa yang kita inginkan ( finish point) , dan bagaimana kondisi keuangan kita saat ini ( titik awal ) , dalam rangka menciptakan peta dan jalur dari titik awal ke titik finish ( rencana keuangan ) . Dalam sebuah buku berjudul The Truth About Money , Ric Edelman menjelaskan Sebelas (11) alasan mengapa perencanaan keuangan perlu dilakukan , yaitu karena melalui proses perencanaan keuangan kita

Lebih Bisa Dipergunakan Untuk

  1. Melindungi diri Anda dan keluarga Anda dari dampak keuangan risiko kecelakaan , penyakit, kematian , dan tuntutan hukum
  2. Mengurangi utang pribadi / keluarga
  3. Membiayai Keuangan bila hidup ini tidak lagi dalam rentang usia produktif – terkait dengan tingkat yang lebih tinggi harapan hidup rata rata di suatu di negara
  4. Membayar biaya biaya untuk membesarkan anak
  5. Memberikan alokasi pendidikan bagi anak-anak ke keperguruan tinggi
  6. Membiayai pernikahan anak perempuan kita
  7. Untuk membeli kendaraan
  8. Untuk membeli rumah
  9. Mampu menentukan gaya hidup yang kita inginkan saat pensiun
  10. Membayar biaya biaya perawatan jangka panjang, dan
  11. Mewariskan kesejahteraan ke generasi selanjutnya ( anak , cucu , dll )

Daftar Tujuan Keuangan

Daftar tujuan keuangan diatas dapat ditambahkan sesuai dengan kepentingan masing-masing yang mungkin saja bisa sangat bervariasi . Pada intinya perencanaan keuangan ini penting karena tanpa perencanaan yang tepat , hidup seseorang akan menjadi lebih sulit dan tidak memiliki arah atau tujuan yang jelas . Bahkan di Indonesia masih sangat sedikit keluarga yang memiliki rencana finansial.

Faktor Yang Mempengaruhi Hal Itu Dikarenakan

  1. Tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas dan cenderung menghabiskan uang untuk memenuhi keinginan jangka pendek .
  2. Kendala waktu .
  3. Keterbatasan ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana mengelola keuangan keluarga dengan baik.
  4. Tidak dapat memilih produk investasi yang lebih beragam
  5. Kurangnya kesadaran masyarakat .
14
Oct

Perkenalkan, Nama Saya Reksa Dana!

Tak kenal maka tak sayang. Kalau kita tak kenal dekat dengan seseorang, lebih sulit memercayakan rahasia kepadanya. Sama halnya dalam berinvestasi. Mana mau menyerahkan uang pada sesuatu yang belum kita kenali. Gila, apa. Salah-salah nyasar ke investasi bodong pula. Hiii…syereemmm.

Padahal kita mungkin butuh alternatif instrumen yang bisa memenuhi beragam kebutuhan. Misalnya, ngumpulin duit untuk berlibur atau uang muka rumah, bekal pension. Atau bahkan sekadar menjaga nilai uang supaya tak digerogoti ‘tuyul” inflasi.

Mengapa inflasi menjadi “musuh”? Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, inflasi adalah proses kenaikan harga-harga secara terus menerus akibat mekanisme di pasar. Ini sama artinya dengan proses penyusutan nilai uang secara kontinyu.

Gambarannya kira-kira begini, pada 2005 silam, kita sudah bisa menyantap semangkuk bakso dengan membayar Rp 4.000. Tapi, sekarang untuk menikmati makanan yang sama harus merogoh kocek hingga Rp 15.000.

Saban tahun, laju inflasi bisa mencapai 10%. Sedangkan gaji atau pendapatan belum tentu naik. Inilah alasan perlunya berinvestasi, menyiasati risiko penurunan nilai uang dengan membiakkannya di tempat tertentu. Misalnya di pasar modal.

13
Oct

Resep Cespleng Menjadi Sejahtera

Muda Berinvestasi, Tua Ongkang-Ongkang Kaki

Buang jauh-jauh, prinsip usang ini: muda foya-foya, sudah tua kaya raya. Hanya segelintir manusia di seantero jagat raya ini yang sukses melakoni prinsip tersebut. Misalnya, mereka yang terlahir sebagai anak konglomerat, tiba-tiba Anda nemu duit sekarung, menang togel atau memiliki jin yang bisa mengabulkan permintaan itu.

Kebanyakan dari kita harus bekerja keras, mulai dari matahari siuman sampai sang surya kembali ke peraduan agar bisa mewujudkan keinginan itu. Bahkan terkadang, ada yang baru pulang ngantor, ketika sebagian dari teman-teman kita asyik dugem.

Kerja keras itu wajib, mengingat kebanyakan dari kita harus menghadapi kebutuhan yang terus bertambah. Untuk memperoleh uang lebih banyak, memang bisa bekerja lebih lama. Cuma, waktu yang tersedia untuk bekerja ada batasnya. Paling banter 8 jam sampai 10 jam per hari. Di atas itu? Kerja rodi namanya.

a. Menabung atau Investasi

Kendati sudah bekerja keras, pertambahan penghasilan tidak secepat tuntutan kebutuhan. Ibaratnya, pertambahan penghasilan bagaikan pertumbuhan jumlah jalan, lambat banget. Sementara tuntutan kebutuhan seperti pertumbuhan jumlah mobil, wusss… Apa akibatnya? Ya, seperti pemandangan jalanan Jakarta: macet total. Hidup kita sulit bergerak karena keterbatasan finansial. Maka, kita harus move on!

Untuk mengakali keterbatasan penghasilan, sebagian dari kita melakukan aktivitas menabung, dengan harapan bunga dari perbankan bisa menambah penghasilan. Kita harus mulai menyisihkan sebagian penghasilan dengan menunda konsumsi yang tidak perlu dan menyimpan untuk kebutuhan yang bersifat jangka pendek.

22
Apr

Simulasi Investasi

Mau tahu berapa yang akan kita dapat jika berinvestasi Reksa Dana saham sebesar Rp 100 ribu per bulan (Rp 1,2 juta per tahun) dengan return 25 persen? ilustrasinya tampak gbr di atas.

Ternyata, beda jangka waktu lima tahun saja, perbedaan return yang didapat sangat besar, ya? Jika kita investasi 20 tahun return-nya Rp.514.417.042,79, sementara investasi 25 tahun bisa memperoleh return Rp.1.582.186.776,10—alias selisih Rp.1.067.769.733,31!

Dengan rumus ini, kita bisa menghitung sendiri, deh, sebesar apa investasi yang kita perlukan. Untuk yang jangka panjang, makin cepat memulai tentu lebih baik. Selamat berinvestasi!

22
Apr

Wisata reksa dana

Ada tujuh kota wisata yang bakal kita singgahi, yaitu Pengenalan Konsep … Tujuan lebih jauh, kami mengajak Anda menelusuri objek-objek wisata reksa dana (PDF)