fbpx

Reksadana Pasar Uang VS Deposito: Apa Bedanya?

Reksadana Pasar Uang VS Deposito: Apa Bedanya?

Ada banyak instrumen investasi yang bisa kamu pilih untuk masa depan. Mulai dari instrumen yang nampak hingga yang tak kasat mata. Untuk jenis kedua ini di antaranya adalah deposito dan reksadana pasar uang. Mungkin kamu sedikit kebingungan dengan dua jenis tersebut dan manakah yang terbaik. Berikut ulasan mengenai reksadana pasar uang vs deposito yang perlu kamu tahu.

Keuntungan yang Berbeda

Perbedaan yang pertama bisa dilihat dari jumlah keuntungan yang diperoleh. Untuk bunga deposito berbeda-beda dan itu tergantung pada bank di mana kamu membeli deposito tersebut. Sementara itu, reksadana berasal dari kumpulan dana investor yang bisa menaikkan posisi tawarnya ke bank. Menariknya lagi, meski kamu menginvestasikan Rp100.000 misalnya, di reksadana pasar uang kamu akan mendapatkan bunga yang standar dengan nasabah prioritas.

Nilai Investasi

Selanjutnya, perbedaan reksadana pasar uang vs deposito adalah mengenai nilai investasinya. Untuk deposito kamu harus memiliki sejumlah dana yang cukup besar untuk memulainya. Kisarannya adalah mulai Rp5 juta sampai Rp8 juta. Apabila danamu kurang dari jumlah yang sudah menjadi patokan tersebut, maka kemungkinan besar akan tidak diterima oleh pihak bank.

Reksadana pasar uang berbeda. Bahkan dari segi nilai investasi di masa awalnya bisa dibilang sangat murah. Kamu cukup menginvestasikan dan membuka rekening reksadana pasar uang dengan jumlah uang Rp50.000 saja. Saat ini, sudah ada yang membuka reksadana pasar uang kurang dari jumlah tersebut. Maka tak heran bila banyak dipilih oleh sebagian besar masyarakat terutama bagi pemula.

Jangka Waktu

Investasi reksadana pasar uang dan deposito juga berbeda dari segi jangka waktu dan masa investasinya. Biasanya, deposito memiliki kuncian masa penempatan uang dalam kurun waktu tertentu. Ini bisa selama seminggu, 3 bulan sampai 1 tahun. Bila kamu semakin lama memilih masa penguncian ini, akan besar pula tingkat bunga yang akan diberikan. Namun, ada pula risiko biaya penalti maupun adanya pengurangan suku bunga.

Reksadana pasar uang berbeda dengan deposito yang tak memiliki periode penguncian uang seperti yang disebutkan di atas. Kamu bisa mencairkan dana kapan saja selama dibutuhkan. Asalkan dilakukan di hari kerja dan tidak melanggar ketentuan dan tata cara dari penjualannya serta skema reksadana. Selain itu, kamu tidak akan dikenai biaya penalti apapun.

Risiko yang Dihadapi

Sementara, dari segi risiko deposito yang paling ditakuti oleh para investor adalah ketika bank mengalami pailit. Namun, dana investasi yang sudah ditanamkan tersebut akan digantikan oleh lembaga penjamin simpanan (LPS) dengan jumlah Rp2 miliar dan bunga maksimalnya 6,25%. Sedangkan risiko investasi reksadana pasar uang adalah fluktuasi harga. 

Selain itu, risiko reksadana pasar uang dipengaruhi oleh obligasi yang ada di pasar. Meski begitu, penurunan ini tidaklah berjalan dalam waktu yang cukup panjang. Sebab, semuanya akan kembali membaik ketika pasar saham turut membaik.

Cara Kerjanya

Perbedaan reksadana pasar uang vs deposito dapat dilihat pula dari segi cara kerjanya. Untuk deposito, nantinya investor akan dijanjikan sebuah imbalan mengenai tingkat keuntungan selama setahun. Tingkat keuntungan tersebut memiliki sifat yang pasti. Contohnya saja adalah sejumlah 5% per tahunnya selama setahun. Namun, keuntungan yang akan dibayarkan akan terpisah dengan dana awal.

Sementara, untuk reksadana pasar uang menggunakan perhitungan berupa nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/Up). Berbeda halnya dengan deposito, saat kamu memilih reksadana pasar uang tidak menerima keuntungan bentuk pembayaran pokok investasi. Kamu bisa mendapatkan keuntungan setelah mencairkan dana investasinya.

 

Setidaknya dengan mengetahui perbedaan reksadana pasar uang vs deposito tersebut, kamu akan lebih bijak lagi dalam berinvestasi. Kini, kamu bisa memilih investasi reksadana pasar uang terbaik hanya di Xsaver. Selain itu, Xsaver aman dan nyaman karena telah memiliki izin operasional dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

 

 

Photo: Rawpixel