fbpx

IHSG Terperosok Karena Corona, Reksadana Pasar Uang Tetap Bertahan

IHSG Terperosok Karena Corona, Reksadana Pasar Uang Tetap Bertahan

IHSG Terperosok Karena Corona, Reksadana Pasar Uang Tetap Bertahan

Wabah virus corona, yang mulanya berasal dari Wuhan, Cina, kini telah menjangkiti hampir seluruh negara di dunia. Berbagai sektor kehidupan terdampak, tidak terkecuali perekonomian dan pasar saham. Pada Senin, 9 Maret 2020 lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan ditutup dengan kondisi melemah 6.58% atau 361.73 poin ke level 5.136.80. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Desember 2016. Namun, di balik situasi yang menyedihkan tersebut, reksadana pasar uang bertahan.

Kondisi buruk dialami IHSG di pekan kedua Maret 2020 

Mengakhiri pekan kedua Maret 2020, bursa saham harus merasakan momen mencekam sepanjang pekan. Selama periode 9-13 Maret, IHSG anjlok 10.75% ke level 4.907.57 dan menjadikan ini sebagai kinerja mingguan terburuk sejak Oktober 2008. Tidak selesai sampai disitu, perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun harus diberhentikan sementara atau trading halt selama tiga puluh menit sebanyak dua kali. Ini karena IHSG merosot sampai lebih dari 5%.

Memang, penghentian perdagangan sementara ini sesuai dengan kebijakan yang sudah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perdagangan di bursa saham akan dihentikan selama tiga puluh menit jika IHSG anjlok 5% atau lebih. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif dalam mengurangi fluktuasi tajam di pasar modal.

Disebabkan oleh aksi jual di bursa saham

Disebabkan oleh aksi jual di bursa saham

Imbas dari merosotnya IHSG sampai 5% lebih ini adalah aksi jual di bursa saham. Aksi jual juga dilakukan sebagai dampak menyebarnya wabah virus corona di berbagai negara. Wabah yang telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO ini dikhawatirkan bisa menekan pertumbuhan ekonomi global yang cukup dalam. Investor tentu tidak ingin mengalami risiko yang lebih jauh dari penurunan kinerja ini. Oleh sebab itu, aksi jual di bursa saham pun dilakukan.

Menariknya, reksadana pasar uang bertahan

Di tengah kondisi buruk yang menimpa IHSG dan pasar saham, justru reksadana pasar uang bertahan. Saat reksadana saham turun 9.9%, reksadana campuran turun 6.06%, dan reksadana pendapatan tetap turun 2.16%, reksadana pasar uang stabil dengan peningkatan tipis 0.02%. Perolehan angka kenaikan tipis ini terjadi sejak 6-13 Maret 2020.

Sebagai informasi, reksadana pasar uang bisa tetap stabil dan bertahan karena menempatkan dana investasi ke dalam instrumen pasar uang. Instrumen ini termasuk di dalamnya adalah deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan obligasi jatuh tempo kurang dari setahun. Dengan racikan portofolio seperti ini, reksadana pasar uang cenderung stabil dan relatif aman.

Alasan reksadana pasar uang bisa bertahan 

Alasan reksadana pasar uang bisa bertahan 

Ada dua hal yang menyebabkan investasi reksadana pasar uang relatif stabil di tengah kondisi pasar yang tidak stabil. Pertama, imbal hasil reksadana pasar uang relatif jauh lebih tinggi dari deposito. Perlu diingat bahwa imbal hasil deposito harus dipotong pajak dulu 20%, sementara reksadana bebas pajak. Kedua, likuiditas reksadana pasar uang cenderung lebih tinggi tinggi dibanding reksadana jenis lainnya. Pembelian dan penjualan reksadana pasar uang bisa dilakukan kapan pun dan tanpa biaya. Ini yang membuat banyak investor tertarik.

 

Likuiditas tinggi dan imbal hasil besar menjadi alasan mengapa reksadana pasar uang bertahan. Di samping itu, reksadana ini juga cocok bagi investor pemula atau investor yang ingin menjaga nilai uangnya dalam jangka pendek kurang dari setahun. Jika pasar saham mengalami koreksi lagi, kamu bisa switching ke pasar uang. Pakai aplikasi Xsaver, biar investasi reksadana makin mengasyikkan!