fbpx

Hindari Panic Buying Karena Wabah Corona, Banyak Ruginya!

Hindari Panic Buying Karena Wabah Corona, Banyak Ruginya!

Hindari Panic Buying Karena Wabah Corona, Banyak Ruginya!

Panic buying adalah salah satu fenomena yang banyak terjadi di masyarakat selama wabah corona terjadi. Banyak yang berbondong-bondong ke supermarket, memborong sembako, kebutuhan rumah tangga, obat-obatan, bahkan masker dan hand sanitizer. Dampaknya adalah kelangkaan barang di pasar dan lonjakan harga barang. Sebagian masyarakat pun akhirnya tidak mendapat stok dan harus berkeliling mencari.

Padahal, yang seperti ini tidak hanya menimbulkan kesusahan bagi orang lain, tapi juga diri sendiri. Kerugian dalam hal keuangan akan dirasakan tidak hanya personal, tapi juga secara luas. Berikut beberapa kerugian yang kiranya akan kamu rasakan.

Cashflow rumah tangga terganggu

Fenomena panic buying saat wabah corona adalah reaksi dan dorongan psikologis yang akan kita rasakan ketika dalam keadaan terancam. Mendengar ada kasus pasien positif corona dan banyak masyarakat yang membeli banyak stok barang, membuat diri merasa terancam dan menjadikan proses berpikir rasional terganggu. Akibatnya, kita akan lebih mudah terpengaruh dengan pola pikir kelompok.

Ketakutan akan stok barang yang habis hingga mendorongmu melakukan pembelian dalam jumlah banyak, sebenarnya akan mendatangkan kerugian pada diri sendiri. Cash flow keuanganmu akan membengkak dan banyak anggaran kebutuhan lain yang tersedot untuk membeli banyak barang dalam jumlah besar sekaligus. Coba ingat lagi, apakah ada dana untuk kesehatan, tabungan, investasi, dan bayar cicilan, yang akhirnya terpakai saat panic buying? 

Pengeluaran jumlah besar dalam satu waktu

Pengeluaran jumlah besar dalam satu waktu

Kalau biasanya kamu hanya belanja 5 kg beras untuk sebulan dan satu kardus mi instan, berapa jumlah yang kiranya akan kamu habiskan ketika kamu memborong 50 kg beras dan sepuluh kardus mi instan sekaligus? Bukankah itu sepuluh kali lipat anggaran yang biasanya dikeluarkan? Bukankah itu juga termasuk pemborosan yang tidak perlu? Melihat potensi pemborosan seperti ini, ada baiknya kamu menahan diri untuk tidak panic buying dan membeli secukupnya selama wabah corona.

Terjebak dalam utang kredit 

Hal yang lebih buruk dari pemborosan dan arus cash flow yang terganggu adalah utang kredit. Banyak, kan, sebagian dari kamu yang belanja kebutuhan pokok sehari-hari dengan pakai kartu kredit? Tanpa disadari, tagihan akhir bulan akan menumpuk gara-gara kamu memborong kebutuhan konsumsi dalam jumlah yang banyak. Padahal, di sisi lain, banyak sektor pekerjaan yang terganggu karena wabah corona sehingga pendapatan pun menurun. Kamu harus bisa lebih hemat dan menahan diri.

Mendorong inflasi  

Mendorong inflasi  

Entah kamu sadari atau tidak, panic buying yang menyebabkan kelangkaan stok barang di pasar memicu inflasi yang akan mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. Kalau masyarakat banyak yang memborong, lalu stok barang di pasar menipis dan tidak cukup untuk semuanya, maka kelangkaan dan kenaikan harga barang sudah pasti akan terjadi. Dampaknya pun inflasi, harga melambung, dan stok hanya tersedia sedikit.

Kalau sudah seperti ini, maka semua elemen masyarakat bisa dirugikan. Harga barang kebutuhan pokok naik, sementara pendapatan tetap. Malah, bisa jadi pendapatan turun karena pembatasan kegiatan di luar rumah. Apakah yang seperti ini tidak semakin membuatmu cemas? Ada baiknya kamu ikut jaga jumlah stok barang di pasar. Tidak perlu memborong agar harga-harga di pasar relatif stabil.

 

Daripada panic buying saat wabah corona, lebih baik kamu investasikan saja uangmu ke reksadana pasar uang. Instrumen investasi ini cenderung stabil di tengah fluktuasi harga saham dan pasar modal. Return atau imbal hasilnya juga lebih besar dari tabungan konvensional. Berkat likuiditasnya yang tinggi, kamu bisa pakai investasi di reksadana pasar uang ini sebagai persiapan dana darurat. Penasaran ingin belajar? Download saja aplikasi Xsaver di Google Play Store dan App Store!