fbpx

Berbagai Faktor Penyebab Saham Turun Saat Wabah Corona

Berbagai Faktor Penyebab Saham Turun Saat Wabah Corona

Berbagai Faktor Penyebab Saham Turun Saat Wabah Corona

Wabah corona tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tapi juga sektor investasi. Khususnya bursa saham, yang sempat menyentuh angka 3.000-an pada Maret 2020, menjadikannya rekor terendah sejak 2016. Padahal, pada Januari 2020 lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat berada di posisi yang cukup membanggakan, yaitu 6.325.

Sayangnya, sejak kasus positif corona pertama kali dikonfirmasi di Indonesia, IHSG terus mengalami penurunan. Hingga artikel ini ditulis (Mei 2020), IHSG masih berada di angka 4.511. Apa saja faktor penyebab saham turun di tengah corona?

Masifnya penyebaran virus corona

Masifnya penyebaran virus corona

Sebetulnya bukan cuma bursa saham Indonesia yang mengalami pukulan keras akibat wabah corona. Sejak awal tahun, performa ekonomi global juga ikut tertekan karena sentimen negatif dari virus corona. Apalagi setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan status virus corona sebagai pandemi global, tekanan terhadap perekonomian pun semakin kuat, tidak terkecuali perekonomian Indonesia.

Aktivitas jual beli menurun karena adanya imbauan untuk melakukan karantina mandiri atau stay di rumah saja. Belum lagi jutaan karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga tak lagi memiliki pemasukan tetap. Semua saling berkesinambungan sehingga menciptakan satu dampak besar terhadap perekonomian.

Perang harga minyak

Faktor penyebab saham turun ternyata juga berasal dari perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia. Penyebaran virus corona menyebabkan harga minyak mentah dunia anjlok hingga ke teritori negatif. Hal ini dikabarkan merupakan rekor terendah sepanjang sejarah.

Pada pertengahan April 2020 lalu, misalnya, harga minyak ditutup pada level minus US$37,63 per barel. Penyebabnya adalah para pedagang merasa putus asa, bahkan sampai harus membayar pembeli agar bisa mengurangi pasokan minyak yang sudah tidak cukup lagi ditampung. Nah, akibatnya, harga saham emiten gas dan minyak pun langsung anjlok. 

Penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve

Penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve

Penyebab saham turun lainnya adalah keputusan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed). Pada awal Maret 2020 lalu, The Fed menurunkan suku bunga hingga 50 basis poin menjadi 1,00% hingga 1,25%. Tujuannya memang baik, yakni untuk membantu menangkal krisis ekonomi akibat pandemi virus corona. Sayangnya, langkah tersebut dinilai belum berhasil memberikan stimulus terhadap perekonomian global.

Di Indonesia sendiri, penurunan suku bunga tersebut juga belum berdampak signifikan. Nilai IHSG belum menunjukkan peningkatan tajam. Terlebih, keputusan menurunkan suku bunga oleh The Fed ternyata berpotensi membatasi amunisi untuk mengontrol ekonomi.

 

Setelah mengetahui berbagai faktor penyebab saham turun saat wabah corona, wajar apabila banyak investor saham yang merasa cemas dan bingung harus berbuat apa. Mengingat saham merupakan investasi bersifat jangka panjang, dan selama tidak ada kebutuhan mendesak, maka wait and see menjadi langkah yang cukup bijaksana. Kamu sebaiknya tunggu dulu sampai kondisi kembali membaik. Yakinlah bahwa nilai saham akan kembali naik.

Sementara itu, kamu bisa tetap melakukan investasi di instrumen yang fluktuasinya rendah sehingga performanya pun relatif lebih stabil. Reksadana pasar uang merupakan pilihan pas karena dana kamu akan ditempatkan di instrumen pasar uang, yang memang dikenal memiliki tingkat fluktuasi relatif kecil. Kabar baiknya, kamu bisa berinvestasi reksadana pasar uang cuma dengan menggunakan smartphone melalui aplikasi seperti Xsaver. Berbagai kegiatan investasi reksadana bisa kamu lakukan, mulai dari membeli produk reksadana sampai pencairan investasi!